REFLEKSI SUMPAH PEMUDA; BERSATU DAN BANGKIT

REFLEKSI SUMPAH PEMUDA; BERSATU DAN BANGKIT

Oleh: Dr. Ade Zaenul Mutaqin, M. Ag.

KPU KOTA TASIKMALAYA – Dalam babakan sejarah perjuangan bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran para pemuda. Bung Karno di usia 25 tahun mampu melahirkan pikiran-pikiran visioner dalam merumuskan ideologi yang dapat dijadikan dasar negara. Bung Hatta, di usia 26 tahun  telah memikirkan dasar-dasar Indeonesia Merdeka (Indonesia Vrije). Muhammad Yamin, di usia 25 tahun telah menyodorkan gagasan “Persatuan dan Kebangsaan Indonesa” dalam KBPI II. (Lihat Yudi Latif, Makrifat Embun Pagi, 2018: 325). Dan masih banyak  tokoh pemuda lainnya yang terlibat dan berperan penting dalam babakan sejarah bangsa Indonesia, termasuk para pemuda yang telibat dalam momentum sejarah yang sangat penting bagi perjalanan bangsa ini, yakni Sumpah Pemuda tahun tahun 1928.

Perjuangan di era pra kemerdekaan tentu sangatlah berat dan tidak mudah, bagaimana harus mengusir penjajah (kolonialisme dan imperalisme) dari bumi Indoensia dengan segala keterbatasan yang ada. Namun dengan semangat patriotik, idealisme dan perjuangan yang tak kenal menyerah, serta pengorbanan yang tak terhitung nilainya, akhirnya bangsa Indonesia mampu mewujudkan cita-cita luhurnya, menuju pintu gerbang kemerdekaan. Demikian juga di era awal kemerdekaan, bukanlah hal yang mudah merumuskan sebuah konsep atau bentuk dan dasar negara yang memiliki wilayah yang sangat luas, yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dengan sangat beragam suku bangsa, ras, Bahasa, budaya dan agama di dalamnya. Juga rongrongan penjajahan yang masih ingin menguasai Indonesia. Namun dengan semangat dan demi kepentingan bersama dan dalam rangka tetap merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa untuk menuju bangsa yan besar, maka Negara Kesatuan Republik Indonesia ini bisa diwujudkan dan dapat berdiri dengan kokoh sampai sekarang.

Walau demikian bukan berarti saat ini kita, khususnya kaum muda boleh berleha-leha dan berpangku tangan. Ada banyak persoalan dan tantangan yang dihadapi oleh bangsa ini, yang menuntut keterlibatan dan peran aktif dari para pemuda. Perahu besar yang bernama NKRI, jika tidak dirawat dan dijaga dengan baik, maka tidak mustahil akan karam. Problematika dan tantangan yang dihadapi bangsa saat ini sangat komplek, meliputi aspek ideologi, politik, sosial, budaya, keamanan dan lain-lain. Belum lagi tantangan global yang semakin kompetitif, khususnya dalam kontkes ekonomi dan perkembangan teknologi, yang saat ini bangsa kita masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara maju lain di dunia.

Problem dan tantangan tersebut begitu besar. Tidak akan bisa jika hanya diselesaikan oleh pemerintah semata. Tak bijak juga, terhadap semua problem itu, kita hanya melempar-lempar kesalahan dana/atau hanya berpangku tangan, apatis atas semua masalah yang ada. Kegelapan takkan bisa kita usir hanya dengan mencacinya, ambilah lilin untuk menerangi, begitulah kira-kira kata pepatah bijak. Perlu keterlibatan semua pihak secara bersama-sama dan bergotong-royong,  termasuk keterlibatan dan peran akif kaum muda di dalamnya. Negara akan kuat jika ditopang oleh kekuatan pemuda yang memiliki semangat perjuangan dan idealism yang tinggi, yang rela  bahu membahu berbuat sesuatu yang terbaik untuk bangsa ini.

Semangat Sumpah Pemuda harus tetap menyala dalam setiap dada kaum muda. Bukan untuk bernostalgia. Ia harus menjadi energi dan motivasi dalam kaum muda untuk terus mengabdi pada negeri untuk tetap mempertahankan keutuhan NKRI. Semangat sumpah pemuda adalah semangat persatuan, semangat keberhimpunan semua potensi yang dimiliki bangsa ini untuk mampu bangkit menghadapi berbagai persoalan dan tantangan menuju kejayaan bangsa sebagimana yang dicita-citakan oleh para founding father. Semangat tersebut tidak boleh meredup apalagi sampai padam. Jika semangat sumpah pemuda tersebut tak menyala lagi di kalangan kaum muda, maka tak mustahil bangsa ini  bisa karam dan bercerai berai diterjang badai dan gelombang. Ini tidak boleh terjadi.

Namun untuk bisa mengemban peran vital tersebut, ada prasyarat yang semestinya ada dalam diri kaum muda itu sendiri, di antaranya adalah: Pertama; Idealisme. Idealisme adalah ruh perjuangan. Tan Malaka pernah menyatakan bahwa, “idealisme adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh pemuda”. Tanpa idealisme, seorang pemuda tak memiliki keistimewaan. Idealisme tentang merawat Indonesia agar tetap kokoh berdiri. Idealisme tentang mengawal Indonesia agar tak melenceng dari cita-cita para pendiri bangsa, sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945. Idealisme untuk terus memperjuangkan Indonesia menuju kejayaannya. Tanpa idealisme tindakan dan perjuangan apapun yang dilakukan akan mudah terseret pada arus pragmatisme dan kepentingan sesaat.

Kedua, idea of progress. Kekuatan pemuda adalah kekauatan ide atau gagasan. Tak sekedar gagasan, tapi gagasan yang berisi tentang kemajuan dan kejayaan Indonesia. Seorang pemuda adalah seoang yang berani “bermimpi” sekaligus memperjuangkannya. A winner is dreamer who never give up, begitulah kata Nelson Mandela. Berani berpikir dan bertindak visioner. Seorang pemuda harus berani “bermimpi” (memiliki visi) tentang Indonesia 10 tahun, 20 tahun, 50 tahun, bahkan 100 tahun yang akan datang, menjadi negara yang sejajar dengan negara-negara besar maju lainnya, bahkan terdepan yang mampu memimpin peradaban dunia. Tak ada karya besar yang tak dimulai dari gagasan. Bukankah bangsa juga ini lahir adalah buah dari gagasan para pendiri bangsa terdahulu, yang dengan segala keterbatasannya berani “bermimpi” tentang Indonesia yang berdaulat dan merdeka, yang sekaligus siap memperjuangkan ide dan gagasannya tersebut.

Ketiga, Kemandirian. Kemandirian bukanlah berarti sendiri, tapi suatu sikap tidak tergantung kepada pihak atau kepentingan apapun. Pikiran dan tindakannya hanyalah didasarkan atas kepentingan bangsa. Kemandirian juga adalah suatu sikap yang tidak bisa diintervensi  atau digerakan oleh siapapun untuk kepentingan apapun. Hanyalah kepentingan bangsa yang bisa mendorongnya untuk bertindak. Di tengah maraknya kepentingan pragmatisme dari beragam kelompok, yang dapat mengintervensi kekuatan kaum muda, maka sikap kemandirian yang kokoh dapat menjadi penangkalnya. Tanpa kuatanya sikap kemandirian, kita akan mudah terseret dan terjajah oleh pihak lain. Kemandirian adalah adalah pondasi kedaultan. Tanpa ada kemandirian, kedaulatan tidak akan tegak. Sikap kemandirian ini mesti diperkuat di kalangan generasi muda.

Keempat, Semangat Persatuan. Tak bisa dipungkiri, semangat utama yang menyatukan semua komponen anak bangsa yang sangat beragam suku bangsa, budaya, bahasa dan agama yang terbentang dari Sabang sampai Merauke adalah jiwa dan semangat persatuan. Tanpa ada persatuan, rasanya mustahil Indonesia mencapai kemerdekaannya. Semangat persatuan ini pulalah yang juga menjadi perekat kokohnya NKRI sampai saat ini. Bhineka Tunggal Ika, tidak boleh hanya menadi semboyan belaka, demikian juga dengan sila Persatuan Indonesia dalam Pancasila tidak boleh semata untuk dihapal saja, tapi lebih dari itu, harus menjadikan ruh dan semangat dari seluruh komponen anak bangsa untuk tetap menjaga NKRI tercinta ini agar tetap kokoh.

Dan Kelima, Cinta. Kecintaan pada negeri harus tetap terpupuk dalam setiap sanubari anak negeri. Kecintaan ini akan mendorong merawat negeri dengan sepenuh hati. Cinta kepada kepada negeri dapat menjadi pengikat setiap anak negeri untuk berbuat yang terbaik dengan tanpa pamrih. Hilang dan kerontangnya kecintaan kepada negeri dapat menjadikan kita apatis dan tak peduli terhadap apapun dan bagaimanapun kondisi bangsa. Bangsa ini bukanlah hanya warisan dari para pendahulu, namun juga titipan dari para generasi mendatang. Maka berkewajiban dan sepatutnyalah kita menjaga dan merawat bangsa ini dengan sebaik-baiknya dan dengan penuh cinta kasih agar bangsa ini tetap eksis, berdiri dengan kokoh dan gemilang.

Selain prasyarat tersebut, tentu masih banyak instrument lain lain yang mesti dimiliki pemuda dalam memikul peran dan tanggung jawabnya sebagai perekat persatuan dan lokomotif kemajuan bangsa, di antaranya yang terpenting adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tak ada kemajuan suatu bangsa yang tak dibarengi dengan kemajuan ilmu pengetahun dan penguasaan teknologi. Sehingga tak bisa ditawar-tawar lagi, kapasitas ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi, mutlak pemuda harus memilikinya.

Pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan, Syubbanul Yaum Rijalul Ghad, demikian pepatah bijak mengatakan. Nasib bangsa ini di masa depan, terletak di pundak para pemuda hari ini. Apakah mereka generasi yang peduli dan memiliki tanggung jawab ataukah generasi yang apatis yang tidak tahu menahu apapun yang terjadi pada bangsanya. Perjuangan para pemuda 92 tahun yang lalu, sudah bisa kita nikmati hari ini. Namun apakah yang sudah kita berikan dan perjuangkan untuk generasi bangsa di masa yang akan datang.

Tidak ada generasi perubahan tanpa usaha kesengajaan. Generasi Sumpah Pemuda secara sengajamerespon tantangan kolonialisme dan feodalisme lewat penciptaan ruang publik, wacana public, dan organisasi aksi kolektif yang mempertautkan minoritas kreatif yang berserak menjadi blok nasional pengubah sejarah (historical block). (Yudi Latif, 2018:328).

Peringatn hari Sumpah Pemuda, tidak boleh hanya semata untuk glorifikasi dan romantisme masa lalu. Sejarah bukan hanya untuk dikenang dan nostalgia. Lebih dari itu, bagaimana tugas kita hari ini sebagai generasi muda adalah bisa mengambil api sejarah dan memetik nilai-nilai ideal dari momentum sejarah tersebut sebagai motivasi dan spirit untuk merspon tantangan zaman yang dihadapi bangsa kita tercinta hari ini. Demikian juga dengan  tema “Bersatu dan Bangkit”, tak boleh hanya menjadi semboyan belaka, namun harus menjadi pendorong bagi kita semua, khususnya generasi muda untuk terus berjuang merekatkan dan menyatukan semua keragaman potensi yang ada untuk Indonesia yang bangkit menuju kegemilangannya. Wallahu a’lam.

PPID KOTA TASIKMALAYA

See all posts