HARI PAHLAWAN DAN PAHLAWAN DEMOKRASI

HARI PAHLAWAN DAN PAHLAWAN DEMOKRASI

Oleh : Ade ZM

Hari Pahlawan 10 November adalah momentum yang sangat tepat untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur, sekaligus mengheningkan cipta atau mendoakan semoga arwah mereka di tempatkan di tempat yang mulia di sisi Allah SWT. Secara khusus peringatan hari pahlawan pada tanggal tersebut untuk mengenang peristiwa gugurnya ribuan pejuang Indonesia dalam pertempuran di Surabaya 10 November 1945 dalam rangka mempertahankan kemerdekaan dari rongrongan para penjajah.  Namun, secara substansial dimensinya tentu lebih luas dari itu. Babakan sejarah perjuangan kemerdekaan Negara  Indonesia yang sangat panjang, tentu masih sangat banyak lagi para pahlawan yang telah berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Negara Indonesia, yang patut kita kenang jasa, pengeorbanan dan perjuangannya.

Peringatan hari pahlawan juga merupakan momentum yang tepat bagi kita untuk meneladani dan menginternalisasi semangat juang, serta nilai-nilai kepahlawanan untuk dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari rangka memajukan bangsa dan negara ini. Semangat patriotik, kecintaan kepada negeri, keberanian membela kebenaran dan keadilan, rela berkorban unuk bangsa dan negara, adalah nilai-nilai yang harus terus terpupuk pada diri kita sebagai anak bangsa. Termasuk keasadaran bahwa apa yang kita nikmati hari ini, di dalamnya terdapat jasa para pahlawan yang telah berjuang mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan bangsa ini.  Tanpa peran dan jasa para pahlawan terdahulu, belum tentu kita bisa menikmati kemerdekaan seperti sekarang ini. Maka sudah sepatutnya pula, kita pun harus bisa memberikan yang terbaik untuk generasi anak cucu kita di masa mendatang, sebagaimana disebutkan dalam naskah Sunda kuna Amanat Galunggung “Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke” (“Ada dulu maka ada sekarang, bila tak ada dulu tak akan ada sekarang”).

Dilihat dari makna dan substansinya istilah pahlawan memiliki spektrum dan cakupan yang sangat luas. Tak terbatas pahlawan yang telah gugur di medan peperangan di era kemerdekaan. Namun, sepanjang  rentang sejarah bangsa Indonesia, dalam setiap masanya bisa jadi terdapat pahlawan di dalamnya, baik yang tercatat ataupun tidak tercatat, termasuk di era sekarang. Di bidang apa pun, siapa pun yang dengan semangat patriotik, kecintaan, serta kerelaan berjuang mendedikasikan diri demi bangsa dan negara, bertaruh nyawa bahkan ia gugur dalam menjalankan tugas tersebut, maka ia layak disebut pahlawan. Misalnya, para tenaga medis yang gugur dalam berjuang di garda depan menanggulangi wabah covid-19, layak diapresiasi sebagai pahlawan. Termasuk para penyelenggara pemilu yang gugur ketika menjalankan tugas pada Pemilu 2019, bahkan juga tahun-tahun sebelumnya, mereka pun layak diapresiasi sebagai pahlawan.

Pada tahun 2019 dalam gelaran pemilihan umum, dilaporkan ratusan penyelengara pemilu ad hoc, meninggal dunia, yang terbanyak menimpa anggota KPPS yang bertugas di TPS, anggota PPS dan PPK, serta petugas ketertiban yang menjaga TPS-TPS. Dikutip dari buku Laporan Penyelenggaraan Pemilu Serentak 2019 yang diterbitkan oleh KPU RI, personel badan ad hoc Pemilu 2019 yang meninggal dunia berdasarkan laporan dari KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota mencapai sebanyak 894 oarng, belum termasuk dari unsur pengawas dan TNI/POLRI. Mereka mejalankan tugas secara sukarela demi pelaksanaan Pemilu yang jurdil dan bersih, serta demi kelangsungan estafeta kepemimpinan bangsa berjalan dengan damai dana aman.

Tugas sebagai penyelengggara Pemilu khususnya di level ad hoc, termasuk petugas KPPS, bukanlah pekerjaan yang mudah dan ringan. Selain aspek tanggung jawab, secara teknis dan beban pekerjaan pun sangat berat.  Pemilu 2019 di Indonesia adalah pehelatan demokrasi yang sangat  besar, selain cakupan wilayah yang sangat luas, juga melibatkan pemilih dengan jumlah yang sangat besar (ketiga setelah Amerika dan India. Selain itu, Pemilu 2019, ada lima jenis pemilihan dilaksanakan secara serentak dalam satu waktu, dengan sistem dan mekanisme teknis yang turunannya yang sangat komleks. Sehingga tidak salah jik para pengamat luar negeri menyebutnya pemilu yang paling kompleks di dunia (the most complex election).

Sebagai gambaran pada Pemilu 2019, ada tiga sistem pemilu yang berjalan secara simultan. Pertama, pemilihan anggota leggislatif secara proporsional terbuka (open list proporsional representation), di mana pemilih bukan hanya mencblos tanda gambar partai, tapi juga nama caleg. Kedua, anggota DPD dipilih dengan single non transferable vote (SNTV) atau biasa disebut  sitem distrik berwakil banyak. Ketiga, capres cawapres diiluh dengan sistem pemilu mayoritas dua putaran (majoritarian run-of two round system) (Harun Husen, 2019:5). Dengan sistem tersebut, tentu teknis turunannya sangat kompleks lagi, seperti jenis dokumen, kriteria suara sah, dan tata cara pengadministrasiannya. Itu semua menuntut cara kerja yang telaten dan konsentrasi yang tinggi, agar terhindar dari kesalahan, dan tentunya stamina yang kuat.

Selain sistem dan mekanisme  pemilu yang demikian kompleks, tugas-tugas teknis lainnya juga terbilang tidak ringan, semisal dalam hal pendistribusian logistik pemilu, seperti kotak suara, bilik suara dan lain-lain ke berbagai pelosok aerah yang terpencil. Di beberapa daerah ada yang harus melewati sungai, hutan dan perbukitan dengan jarak cukup jauh. Belum lagi kadang faktor cuaca yang tidak mendukung. Selanjutnya, pada tahap pemungutan dan penghitungan suara. Pada tahap ini petugas KPPS menjalankan tugas mulai dari pagi sampai larut malam, bahkan sampai pagi lagi. Dengan beban kerja dan tanggung jawab seperti itu tentunya sangat menguras tenaga dan pikiran yang tidak sedikit. Rasa lelah, capek bahkan kadang sakit tak mereka hiraukan, demi suksesnya pelaksanaan pemilu.

Tugas, tanggung jawab dan beban kerja yang mereka emban, jika dibandingkan dengan honor yang diterima, tentu tidak sebanding. Motivasi utama yang menggerakan mereka sehingga mau dan rela mengerjakan itu semua, semata hanya semangat perjuangan dan pengabdian kepada bangsa dan negara, agar pelaksanaan Pemilu berjalan dengan baik, agar proses politik berjalan dengan aman dan damai. Pemilu tak sekedar agenda politik rutin biasa, tapi adalah mandat UUD 1945 dalam rangka menjalankan kedaulatan rakyat. Pemilu adalah momentum setiap warga negara (yang memiliki hak pilih), menggunakan hak pilihnya dalam rangka menentukan masa depan bangsa dan negara Indonesia.  Sebagaimana dinyatakan oleh Idham Holik, Komisioner KPU Jawa Barat, “Memilih adalah aksi patriotik, karena demokrasi merupakan amanah sejarah dari para pendiri bangsa dan negara”. Dengan demikian, menjadi penyelenggara pemilu, berarti juga mengemban tugas mulia, menjalankan amanah para pendiri bangsa dan negara. Oleh karena itu, pemilu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan dengan penuh rasa tanggung jawab.

Waktu, tenaga dan pikiran mereka sumbangkan, bahkan hingga akhirnya mereka gugur, demi kepentingan dan kemaslahatan bangsa. Perjuangan mereka tak ternilai harganya, dan tak bisa diganti dengan apapun, selain penghargaan dan penghormatan setingginya atas segala jasa yang telah diberikan, serta doa semoga arwah mereka diterima dan ditempatkan pada maqam yang mulia di sisi Allah SWT. Terhadap semangat, jasa dan pengorbanan yang telah meraka dedikasikan kepada bangsa dan negara tersebut, kita tidak boleh melupakannya. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”, begitu Kata Bung Karno. Di moment yang bersejarah ini, selain mengenang jasa dan perjuangan para pahlawan di era kemerdekaan, kita juga patut mengenang jasa dan perjuangan para pahlawan demokrasi yang telah gugur tersebut. Tak sekedar mengenang tentunya, tapi lebih penting dari itu, adalah bagaimana kita bisa meneladani semangat dan jiwa kepahlawanan mereka.

Para pahlawan memang telah gugur mendahului kita. Namun, semangat patriotisme dan jiwa kepahlamanan mereka harus tetap hidup di tengah-tengah kita. Harus tetap tumbuh dan menyala di dalam diri setiap anak bangsa, tidak boleh redup apalagi padam. Semangat itu harus jadi daya penggerak yang memotivasi siapapun dan di bidang apapun (termasuk di bidang demokrasi), untuk selalu berjuang dan berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara tercinta ini. Selamat Hari Pahlawan 10 November 2020, Pahlawanku Sepanjang Masa. Wallahu a’lam.

PPID KOTA TASIKMALAYA

See all posts